Candi Sewu, Bukti Toleransi Nenek Moyang Kita

2 min read

candi sewu

Candi Sewu terletak sekitar 800 meter di sebelah utara dari kompleks candi Prambanan. Candi ini adalah candi Buddha kedua yang terbesar selain candi Borobudur. Pembangunan candi Sewu dilangsungkan pada abad 8 Masehi di masa pemerintahan Rakai Panangkaran yang merupakan raja terkenal dari kerajaan mataram kuno. Candi sewu memiliki nama asli Prasada Vajrasana Manjusrigrha. Nama ini dibuktikan melalui dua prasasti yairu prasasti Kelurah tahun 782 dan prasasti Manjusrugrha di tahun 792.

Nama Prasada sendiri berarti kuil sementara Vajrasana adalan intan bertahta. Yang terakhir adalah Manjusri-Grha yang memiliki arti rumah manjusari. Candi Sewu memiliki 1 candi utama, 8 candi apit dan 240 buah candi perwara. Bangunan candi utamanya sendiri  memiliki ukuran diameter 28 meter dengan ketinggian 30 meter. Ada ruang Garbhagriha pada tengah candi yang dikelilingi 4 kamar kecil yang menjorok ke arah luar. Masing-masing bangungan memiliki tangga dan bermahkotakan susunan stupa. Setiap pintu penjuru mata angin di candi Sewu juga selalu dijaga oleh 8 patung Drawapala.

candi sewu

Sebagai Bukti Toleransi Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Letak candi Sewu yang bercorak Buddha berdekatan dengan candi Prambanan yang Hinduisme menunjukkan bahwa ada toleransi antara Hindhu dan Buddha yang cukup tinggi di masa itu. Bukti toleransi lainnya adalah sejarah Rakai Pikatan yang berasal dari dinasti Sanjaya dan menikahi Pramodhawardhani yang berasal dari dinasti Syailendra. Saat dinasti Sanjaya berkuasapun, rakyat tetap bebas menganut agama yang telah dipeluk sebelumnya. Disini tersedia taman dengan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk berfoto atau sekedar menikmai pemandangan sambil berteduh di bawah pohon.

Waktu yang pas untuk berkunjung ke candi Sewu adalah di sore hari saat sinaran matahari senja berwarna keemasan menyelusup sela-sela bangunan candi. Pemandangan matahari tenggelam dipadu dengan megahnya candi Sewu  adalah hal yang banyak diburu oleh para pengunjung saat datang ke lokasi ini. Tidak hanya menjadi bukti nyata adanya toleransi, candi Sewu juga adalah salah satu mahakarya yang menunjukkan kemsyhuran kerajaan mataram kuno sekaligus mendapatkan pengakuan dari UNESCO.

baca juga : Keindahan Gunung Merapi dan Merbabu di Candi Ijo

 

Aktivitas Menyenangkan di Kompleks Candi

Jika kita biasanya hanya berjalan kaki saat menikmati pemandangan candi maka di lokasi ini kita bisa mengelilingi taman atau daerah sekitar candi Sewu dengan menggunakan sepeda. Tidak hanya candi Sewu saja tapi juga beberapa candi lainnya yang masih terletak dalam taman wisata candi Prambanan seperti candi Lumbung dan Bubrah. Tidak hanya menikmati pemandangan, kita juga bisa berswafoto dengan latar belakang jajaran pepohonan di sekitar lokasi candi.

Belajar tentang sejarah dan budaya masa lampau jelas akan menjadi manfaat utama yang didapat setelah berkunjung ke situs candi ini. Di candi ini ada beragam relief yang menggambarkan kehidupan masyarakat di masa dinasti Syailendra. Ingin belajar lebih jauh? Kita bisa mengunjungi museum candi Sewu yang memuat cerita tentang proses pemugaran candi. Candi yang belum dipugar sendiri berjumlah sebanyak 200 candi. Museum ini terbilang cukup canggih karena memiliki perlengkapan audio visual sehingga kita bisa belajar sembari menikmati film berlatar sejarah yang diputar.

Setiap hari Selasa, Kamis dan juga Jum’at akan berlangsung pagelaran sendratari Ramayana disini. Pertunjukan dengan paduan tari, drama dan musik ini akan dilangsungkan mulai pukul 19.30 sampai dengan 21.30. Meski para pemain pertunjukannya tidak mengeluarkan suara selama pertunjukan berlangsung namun tetap bisa menyuguhkan gelaran seni yang memukau. Untuk menyaksikan pertunjukan ini, kita bisa membeli tiket masuk yang sudah tersedia.

candi sewu

Rute Menuju Candi Sewu

  • Dari arah Jogja:

Kita bisa memulai perjalanan dengan menaiki bis transjogja jalur 1A dan 2A lalu turun di halte Prambanan.Selanjutnya kita bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki atau menaiki becak.

  • Dari arah Solo:

Kita bisa menaiki bis arah Yogyakarta dan turun di terminal Prambanan.

 

Jam Operasional Dan Tiket Masuk Candi Sewu

Candi ini dibuka setiap hari mulai dari pukul 6 pagi sampai dengan 5 sore. Untuk tiket masuknya akan dibagi menjadi beberapa jenis tarif. Wisatawan domestik yang masih anak-anak akan dikenakan tarif sebesar Rp. 12.500 sedangkan yang dewasa sekitar Rp. 30.000. Tarif berbeda akan diberikan pada wisatawan mancanegara yaitu sebesar USD $ 18.

 

Obyek Wisata di Sekitar Candi

  • Candi Prambanan

Karena masih satu komplek maka kita bisa memasukkan candi Prambanan dalam daftar kunjungan kita saat menyambangi candi Sewu. Disini kita bisa mengunjungi 2 candi apit dan 4 candi sudut. Total ada sekitar 224 candi di komplek candi Prambanan.

  • Candi Plaosan

Memiliki letak yang berdekatan dengan candi Prambanan yaitu hanya sejauh 2 km bisa menjadi bahan pertimbangan kita saat mencari obyek wisata terdekat. Dibangun dalam area persawahan dan ladang, candi Plaosan memiliki panorama yang sejuk dan juga asri. Dalam sejarahnya, candi ini dibangun untuk membuktikan cinta Rakai Pikatan pada Pramodyawardani yang merupakan permaisurinya. Kompleks candinya sendiri terbagi menjadi 2 yaitu candi Plaosan lor dan kidul. Di candi ini, kita akan menemukan pelajaran tentang cinta dan toleransi. Selain candi Plaosan, kita juga bisa mengunjungi candi Sojiwan dan candi Ratu Boko.

One Reply to “Candi Sewu, Bukti Toleransi Nenek Moyang Kita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *